Seragam Otoritas
Oleh : Muhammad Syafii Kudo
Alkisah Nu'man bin Tsabit alias Imam Abu Hanifah suatu hari pernah melihat seorang anak kecil yang memakai sendal yang terlihat terlalu besar untuk ukurannya. Maka dengan penuh rasa kasih sayang sang Imam menegur si anak,
"Wahai anak kecil, sendalmu itu terlalu besar untukmu, berhati-hatilah bisa jadi engkau nanti terjatuh."
Kemudian si anak kecil itu sembari tersenyum dan melihat kepada Imam Abu Hanifah seraya berkata, "Terima kasih, Paman, atas nasihatnya. Apakah anda Nu'man bin Tsabit?"
"Benar," jawab Imam Abu Hanifah.
"Benarkah anda yang dijuluki sebagai Imam Abu Hanifah (Bapak Yang Lurus-Bersih)?" tanya si anak lagi.
"Itu hanyalah prasangka baik masyarakat kepadaku," jawab Abu Hanifah merendah.
"Kalau begitu berhati-hatilah, Paman. Jika aku gegara memakai sendal yang ukurannya terlalu besar bisa menjadi sebab terpelesetnya aku, itu hanyalah hal biasa saja sebab yang terpeleset hanya badanku dan hanya melukai diriku sendiri. Namun jika engkau dengan nama sebesar itu (Abu Hanifah) terpeleset, maka engkau dan umat yang mengikutimu bisa terjatuh bukan hanya di dunia namun di akhirat kelak," kata anak kecil itu menasihati.
Setelah mendengar ucapan si anak kecil itu, Imam Abu Hanifah menangis sejadi-jadinya karena merasa nasihat itu menghujam langsung ke jantungnya. Nasihat itu benar adanya. Sebab jika seorang awam terjatuh maka yang terdampak adalah dirinya sendiri. Namun jika yang "terpeleset" adalah para tokoh masyarakat (bidang agama, sosial, pemerintahan dsj) maka dampaknya adalah mereka jatuh beserta umat yang mengikutinya.
Setidaknya ada 3 pelajaran penting yang bisa diambil dari kisah Imam Abu Hanifah tersebut. Pertama, betapa pengamalan Al Qur'an berupa amar makruf nahi mungkar dan saling menasihati benar-benar diamalkan dalam kisah tersebut. Saat Imam Abu Hanifah memberi nasihat kepada anak kecil maka dengan senang hati si anak kecil menerimanya. Demikian pula ketika si anak kecil memberi nasihat kepada Imam Abu Hanifah maka sang Imam menerimanya dengan lapang dada. Ini sesuai dengan Al Qur'an yang berbunyi,
فَذَكِّرۡ إِن نَّفَعَتِ ٱلذِّكۡرَىٰ (9) سَيَذَّكَّرُ مَن يَخۡشَىٰ (10) وَيَتَجَنَّبُهَا ٱلۡأَشۡقَى (11) ٱلَّذِي يَصۡلَى ٱلنَّارَ ٱلۡكُبۡرَىٰ
"...Oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat. Orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran. Orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya. (Yaitu) orang yang akan memasuki api yang besar (neraka)."(QS. Al A'lam : 9-11)
Pelajaran kedua adalah tentang luasnya hati seorang Imam Abu Hanifah. Betapa seorang Ulama Alim dan Wara' di zamannya tidak segan menerima nasihat dari orang lain yang kedudukannya jauh di bawahnya. Nama besarnya itu tidak menghalanginya untuk menerima kebenaran dari mana saja dan dari siapa saja. Ini sesuai dengan kalimat bijak yang sering dinisbatkan kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib Radiyallahu Anhu yang berbunyi,
انظر الى ما قيل ولا تنظر الى من قال
"Lihatlah (perhatikan) apa yang dikatakan. Dan jangan melihat siapa yang mengatakannya"
Imam al Sakhawi (w. 1497 M), seorang sejarawan besar, dan ulama di bidang hadis, tafsir dan sastra, juga pernah menulis kata-kata Nabi yang berbunyi,
خُذِ الْحِكْمَةَ وَلَا يَضُرُّكَ مِنْ أَيِّ وِعَاءٍ خَرَجَتْ
“Ambillah hikmah (kebijaksanaan, ilmu yang baik) , tak akan merugikanmu, darimana pun ia datangnya”. (Al-Sakhawi dalam “al-Maqashid al-Hasanah”).
Seorang filsuf muslim Al Kindi
ينبغى لنا ان لا نستحيى , من استحسان الحق واقتناء الحق من اين اتى وإن أتى من الاجناس القاصية عنا والامم المباينة لنا. (الكندى)
“Seyogyanya kita tidak merasa malu menerima suatu kebenaran dan menjaganya dari manapun ia berasal, meski dari bangsa-bangsa yang jauh dan berbeda dari kita”. (Al Kindi).
Ibnu Rusyd, filosof, hakim agung dan ahli fiqh terkemuka juga mengatakan,
فما كان موافقا للحق قبلناه منهم وسررنا به وشكرناهم عليه
“(Jika kita) menemukan ada sesuatu yang benar dari mereka (yang berbeda dari kita), kita (sepatutnya) menerima dengan gembira dan menghargainya."
Pelajaran ketiga adalah, bahwa setiap kita sejatinya adalah pemimpin dan kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. Dalam kisah di atas, Imam Abu Hanifah menangis sejadi-jadinya sebab ingat akan besarnya tanggungjawab di hadapan Allah nanti. Apalagi beliau sebagai Ulama yang diikuti banyak umat tentu bebannya semakin besar dalam hal pertanggungjawaban. Di dalam hadis disebutkan,
أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَعَبْدُ الرَّجُلِ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ أَلَا فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
"Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpin. Penguasa yang memimpin rakyat banyak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, setiap kepala keluarga adalah pemimpin anggota keluarganya dan dia dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, dan istri pemimpin terhadap keluarga rumah suaminya dan juga anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap mereka, dan budak seseorang juga pemimpin terhadap harta tuannya dan akan dimintai pertanggungjawaban terhadapnya. Ketahuilah, setiap kalian adalah bertanggung jawab atas yang dipimpinnya" (HR al-Bukhari).
Terkhusus untuk para pemimpin umat ada hal penting yang patut diperhatikan. Sayyidina Umar bin Khattab Radiyallahu Anhu mengatakan,
إِذَا زَلَّ العَالِمُ زَلَّ بِزَلَّتِهِ عَالَمٌ
"Jika seorang Alim tergelincir (menyimpang dari kebenaran) maka tergelincirlah umat (dengan ketergelinciran si Alim) itu"
Pesan Khalifah kedua itu merupakan sebuah alarm keras bagi siapa saja yang diamanahi dengan banyaknya pengikut (umat/anggota). Sebab ketika mereka menyimpang maka akan menyimpang pula para pengikutnya. Dan dampak dari hal itu adalah kerusakan besar di tengah umat.
Nah, di zaman ini -diakui atau tidak- banyak kita dapati para tokoh masyarakat yang tingkah lakunya banyak memunculkan kontroversi dan menyebarkan fitnah di tengah masyarakat. Baik itu agamawan, pakar politik dan ekonomi, elite pemerintahan, pemengaruh media sosial, anggota organisasi masyarakat dsj.
Masih hangat di ingatan publik bagaimana seorang agamawan sekaligus Menteri mengatakan bahwa zakat itu tidak penting karena yang lebih penting menurutnya adalah sedekah. Padahal dalam lima rukun Islam sangat gamblang dinyatakan bahwa zakat adalah salah satu pilar (yakni yang ketiga) yang dengannya dibangun agama Islam. Ada lagi, tokoh publik yang menyatakan bahwa masuk surga itu bisa digapai dengan berbuat baik secara horizontal (Hablum Minannas) meskipun tidak beriman kepada agama yang dibawa oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam. Pernyataan tokoh yang sempat heboh karena ajakan kudetanya kepada pemerintah itu jelas bertentangan dengan worldview Islam yang menyatakan bahwa kunci surga adalah kalimat Tauhid. Artinya tiada jalan lain menuju surga kecuali melalui jalan Islam. Kemudian ada pula elite pemerintahan yang ketika program andalannya dikritisi setelah banyak menimbulkan keracunan dan membuat keuangan negara boncos selalu mengatakan -dengan keras kepala- bahwa para pengkritiknya sebagai pihak yang tidak patriotik dan dilabeli sebagai antek asing. Tidak berhenti di situ, bahkan para aktivis di negeri ini kini merasa ngeri sebab di saat agen intelejen di negara lain sibuk memata-matai musuh negara, oknum Intel berseragam militer di negeri ini justru sibuk memata-matai para aktivis bahkan berani menyakiti mereka dengan siraman air keras. Teror itu ditujukan kepada siapa saja yang berani dengan lantang mengkritik kinerja dan keputusan yang dibuat oleh penguasa yang dinilai kebablasan.
Selain dari itu semua, negeri bertabur ormas ini juga masih belum selesai dalam masalah premanisme yang dilakukan oleh para bandit berseragam ormas. Para oknum anggota ormas itu banyak melakukan pemalakan kepada individu (pedagang, sopir, perusahaan dll). Mereka juga banyak melakukan kekerasan demi berebut lahan parkir dan jatah uang keamanan yang demi semua itu tidak jarang harus saling berbunuh dengan anggota ormas yang lain. Dan ironisnya sikap kesewenang-wenangan mereka itu bisa muncul karena selama ini para tokoh pimpinannya dekat bahkan jadi binaan para oknum elite politik dan aparat.
Nah, jika ditilik lebih dalam, kontroversi ucapan dan kelakuan dari semua pihak yang disebutkan di atas memiliki satu titik sama yaitu dilakukan di balik seragam, yakni 'seragam otoritas'. Dan menjadi konsekuensi logis dari sebuah otoritas, bahwa keputusan yang diambil oleh para pemakai seragam otoritas memiliki kekuatan otoritatif untuk diikuti meskipun adakalanya keputusan itu tidak sesuai norma agama, sosial dan moral.
Sebagai catatan tambahan, setidaknya ada beberapa jenis otoritas, yakni :
1.Otoritas Formal yakni otoritas yang diberikan kepada seseorang atau lembaga berdasarkan posisi atau jabatan mereka dalam organisasi atau struktur sosial.
2.Otoritas Informal yaitu otoritas yang diperoleh seseorang karena keahlian, pengalaman, atau reputasi mereka, bukan karena posisi atau jabatan.
3.Otoritas Tradisional yaitu otoritas yang diberikan kepada seseorang atau lembaga karena tradisi atau kebiasaan yang sudah berlangsung lama.
4.Otoritas kharismatis yakni otoritas yang diperoleh seseorang karena kepribadian atau kemampuan mereka yang luar biasa.
Di negeri ini seragam otoritas kini makin sering disalah-gunakan oleh banyak oknum penjahat di berbagai bidang (pemerintahan, agama, politik, ekonomi dan sosial) demi ambisi pribadi dan golongan di atas penderitaan masyarakat. Ironisnya beberapa golongan pemakai seragam otoritas itu adalah "buruh" yang dibayar dengan uang rakyat namun malah memperalat rakyat lewat penyelewengan kekuasaan (abuse of power). Dari semua jenis otoritas tersebut, sebenarnya ada keterikatan yang saling terkait satu sama lain. Artinya jika satu jenis otoritas baik maka baik pula yang lain. Dan sebaliknya jika satu jenis otoritas ini rusak maka rusak pulalah yang lainnya. Siapakah otoritas yang dimaksud? Jawabannya adalah Ulama. Di dalam kitab Ihya' Ulumuddin, Imam Ghazali Rahimahullah menyatakan,
وقال صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ : ( العلماء ورثة الأنبياء) ، ومعلوم أنَّهُ لا رتبة فوق النبوَّةِ ، ولا شرف فوق شرف الوراثة لتلك الرتبة
"Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam bersabda bahwa Ulama adalah pewaris Nabi (HR. Abu Daud; Tirmidzi; Ibnu Majah). Dan seperti yang diketahui bahwa tidak ada kedudukan yang derajatnya berada di atas derajat kenabian. Dan tidak ada kemuliaan yang melebihi (di atas) kemuliaan warisan kedudukan (kenabian) tersebut." (Ihya' Ulumuddin Juz 1, cet. Darul Minhaj, Hal. 22)
Artinya menurut Imam Al Ghazali, di alam dunia ini tidak ada kedudukan (otoritas) tertinggi setelah kenabian yang melebihi kedudukan (otoritas) Ulama. Di bagian lain Imam Ghazali juga menukil dalam Ihya' Ulumuddin,
وقال أبو الأسود : ليس شيء أعز من العلم ، الملوك حكام على الناس ، والعلماء حكام على الملوك
"Berkata Abul Aswad bahwa tidak ada sesuatu yang lebih mulia daripada ilmu. Para raja adalah penguasa atas para manusia. Dan Ulama adalah penguasa atas para raja"
Maka dengan beberapa pertimbangan itulah maka wajar jika Imam Al Ghazali Rahimahullah berani dengan tegas menyatakan,
ففساد الرعايا بفساد الملوك وفساد الملوك بفساد العلماء وفساد العلماء باستيلاء حب المال والجاه ومن استولى عليه حب الدنيا لم يقدر على الحسبة على الأراذل فكيف على الملوك والأكابر والله المستعان على كل حال
"Maka kerusakan rakyat itu karena kerusakan penguasa, dan rusaknya penguasa itu karena rusaknya para ulama. Dan rusaknya para ulama itu karena kecintaan pada harta dan kedudukan. Barangsiapa yang terperdaya akan kecintaan terhadap dunia maka ia tidak akan kuasa mengawasi hal-hal kecil, bagaimana pula dia hendak melakukannya kepada penguasa dan perkara besar? Semoga Allah menolong kita dalam semua hal."
Ketika mereka yang hari ini memakai seragam otoritas berupa "baju Ulama" telah rusak maka penguasa di negeri itu juga akan rusak dan imbasnya masyarakat juga akan rusak. Rusaknya para Ulama adalah karena kecintaan kepada harta dan kedudukan. Harta dan kedudukan inilah "suapan manis" yang dari zaman ke zaman selalu disiapkan dan disuapkan oleh para penguasa kepada para Ulama agar lembek dan manut kepada mereka sehingga keberanian amar makruf nahi mungkarnya menjadi lemah. Bentuk suapan itu ada berbagai cara, entah itu diangkat menjadi pembantu penguasa (menteri), dikasih jabatan strategis (komisaris utama; anggota dewan penasihat dan pertimbangan penguasa), dikasih jatah tambang, digelontorkan dana kepada pesantren atau ormas yang dipimpinnya dll.
Nah, melihat sedemikan rusak Indonesia hari ini, nampaknya peringatan dari Imam Al Ghazali tersebut serta teladan dari kisah Imam Abu Hanifah di atas sangat mendesak untuk diterapkan di negeri ini. Indonesia bisa diperbaiki jika semua pihak di negeri ini dengan otoritasnya masing-masing bisa saling ta'awun alal birri wa taqwa alias tolong-menolong dalam kebaikan dan taqwa. Dari kisah Imam Abu Hanifah di atas, ada teladan yang bisa diambil, yaitu manakala Ulama, Umara, dan umat dengan otoritasnya masing-masing bisa menjalankan perannya, niscaya negeri ini akan selamat.
Ulama sebagai otoritas tertinggi harus ekstra hati-hati dengan 'seragam besar' otoritasnya tersebut serta mendidik umat dengan teladan yang baik agar umat yang mengikutinya selamat dari berbagai fitnah. Penguasa dengan otoritas kepemimpinannya harus mau mendengar dengan seksama nasihat orang yang strata sosialnya berada di bawahnya (yakni rakyat biasa), serta mau berbenah bukan malah meneror rakyatnya yang kritis. Serta rakyat dengan otoritasnya sebagai pemberi suara dalam setiap Pemilu harus lebih cerdas dengan menolak setiap calon pemimpin yang melakukan money politics serta selalu kritis melihat kinerja para wakil rakyat dan yang terpenting senantiasa mendoakan kebaikan bagi negaranya. Jika tiga hal ini dijalankan Insyaallah keadaan negara ini bisa diperbaiki, meskipun tentunya membutuhkan waktu yang tidak instan. Wallahu A'lam Bis Showab.
