Ramadhan Sebagai Madrasah Pencetak Pemimpin Teladan
Oleh : Muhammad Syafii Kudo
Syahdan, ada seorang pemimpin legendaris sebuah negeri yang kini mendadak menjadi cerita "harum" bagi dunia -yang berada di luar poros rezim Zionis dan Paman Sam- bernama Ali Khamenei. Pria sepuh pemegang jabatan tertinggi bergelar Ruhullah Ayatullah dalam akidah Syi'ah tersebut kini ramai dibaca kisah hidupnya oleh masyarakat dunia (netizen). Pasalnya dia dianggap salah satu pemimpin negara (bahkan mungkin satu-satunya) yang berani secara terang-terangan melawan Zionis dan Amerika Serikat. Bahkan negerinya juga menjadi tandem bagi bangsa Palestina saat perang melawan Zionis beberapa bulan yang lalu. Terlepas dari perbedaan akidah yang ada, kini harus diakui pandangan kekaguman dunia memang sedang tertuju kepadanya. Yang lebih mengagumkan tentu narasi viral yang sedang beredar di jagad Maya ketika sang veteran perang Iran-Irak itu menolak saran dari para pengawalnya agar bersedia keluar dari kantornya karena ada informasi bahwa dia sedang ditargetkan untuk dibunuh dengan mengatakan, "Kalau kalian bisa memindahkan 90 juta rakyat Iran baru saya akan pindah setelahnya." Dan itulah pesan terakhir sang anak kandung Revolusi Iran 1979 itu sebelum akhirnya terbunuh di bulan Ramadhan yang mulia ini.
Penulis mengangkat kisah keteladanan kepemimpinan ini untuk menyadarkan kita bahwa fungsi seorang pemimpin dalam ajaran Islam memang seharusnya demikian. Dalam Islam diajarkan bahwa sebelum rakyat lapar, maka pemimpinlah yang harus merasakannya terlebih dahulu. Seperti kisah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam yang mengganjal perutnya dengan beberapa batu untuk menahan lapar. Bahkan tidak boleh ada seorang pemimpin yang mengorbankan rakyatnya demi kepentingan pribadi penguasa. Pemimpinlah malahan yang harus berada di garda depan kematian sebelum rakyatnya dimatikan oleh pihak musuh. Keteladanan semacam itu tidak datang ujug-ujug namun diperoleh melalui proses penempaan keras ruhani (tazkiyatun nafs). Dan Ramadhan adalah salah satu sarana dan momen untuk melakukan tazkiyatun nafs itu. Ramadhan juga merupakan kawah candradimuka yang salah satu fungsinya adalah membentuk sifat keteladanan seseorang dalam kepemimpinan (Leadership). Baik itu dalam memimpin dirinya sendiri (nafsu diri) maupun memimpin orang lain (dalam lingkup masyarakat dan negara). Sebab pemimpin teladan haruslah sosok pemimpin yang sudah selesai dengan dirinya sendiri.
Bulan Ramadhan adalah bulan Jihad bukan bulan bermalas-malasan dengan dalih tidak ada energi karena lapar dan dahaga. Bahkan di bulan ini Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam bersama para sahabatnya Radiyallahu Anhum melakukan peperangan besar dalam sejarah Islam yakni perang Badar. Dimana di tengah deraan lapar dan dahaga serta teriknya matahari yang dibalut aroma panas gurun pasir, 313 pasukan Islam berhasil mengalahkan seribuan pasukan kafir Quraisy dengan izin Allah SWT. Dan banyak lagi kisah besar dalam khazanah umat Islam yang terjadi di bulan Ramadhan ini. Termasuk di dalamnya penyusunan dan pembacaan teks proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia yang dilakukan pada hari Jum'at, 9 Ramadhan 1364 H. Para pendiri bangsa ini menyusun dan membaca teks proklamasi kemerdekaan dalam keadaan berpuasa di bulan paling mulia. Artinya di dalam bulan Ramadhan ini, banyak terkait di dalamnya mengenai kisah-kisah keteladanan kepemimpinan dan kenegaraan lintas generasi umat Islam mulai dari zaman Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam hingga zaman setelahnya.
Para pelaku sejarah peperangan Badar hingga pencetus proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia tersebut adalah para kaum yang telah paham bahwa kejernihan jiwa yang dihasilkan dari keberhasilan dalam pengendalian hawa nafsu adalah kunci utama dalam meraih kemenangan. Baik itu kemenangan dhohir maupun batin. Dan sekali lagi, Ramadhan adalah salah satu sarananya. Ramadhan adalah madrasah tahunan yang disediakan Allah untuk mengingatkan kembali manusia akan fitrah dirinya sebagai makhluk lemah dan diciptakan hakikatnya untuk beribadah kepadaNya.
Di dalam kitab Mukhtasar Ihya' Ulumuddin bab Asrorus Shoum, Imam Ghazali Rahimahullah menukil hadis Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam yang berbunyi,
لكل شئ باب، وباب العبادة الصوم
"Setiap sesuatu itu memiliki pintu, dan pintu ibadah adalah puasa" (Riwayat Ibnu Mubarak)
Puasa sebagai pintu daripada ibadah memiliki banyak rahasia hikmah (Sirr) dimana jika dilakukan dengan benar sesuai tuntunan Nabi maka tujuan daripada puasa agar menjadi hamba bertakwa pasti akan tercapai. Sebab tidak semua yang berpuasa itu mendapatkan nilai daripada puasanya. Bahkan ada yang berpuasa hanya sebagai penggugur kewajiban syariat dan hanya mendapatkan lapar dan dahaga belaka (HR. An Nasa'i dan Ahmad).
Mendidik perut di dalam bulan Ramadhan memang bagian kecil daripada mendidik nafsu sebab ada juga nafsu dari anggota tubuh lainnya yang patut ditertibkan pula, seperti nafsu kelamin, mata, telinga dsj. Namun pintu masuk dari semua itu tidak bisa dipungkiri adalah melalui suplai makanan dan minuman yang berada di dalam perut. Ini seperti maqolah yang berbunyi,
إذا جاعت البطن شبعت الجوارح ، واذا شبعت البطن جاعت الجوارح
"Jika perut lapar, maka anggota tubuh akan kenyang; jika perut kenyang, maka anggota tubuh akan lapar." (I'anatut Thalibin, Juz 2 hal. 413)
Sederhananya adalah jika perut dalam kondisi lapar maka anggota tubuh lainnya akan kenyang alias tidak butuh melakukan hal-hal berlebihan, baik dalam perkara mubah apalagi sesuatu yang haram. Karena energi yang mendukung untuk melakukan aktivitas itu tidak ada atau minim sekali. Sedangkan jika perut sudah kekenyangan maka anggota tubuh lainnya akan "kelaparan" dan butuh melakukan tindakan yang memuaskan rasa lapar dan dahaganya itu yang mula-mula lewat tindakan mubah berlebihan dan ujungnya bisa berakhir di lingkaran keharaman. Ini mirip perkataan Raja Ali Haji dalam Gurindam Dua Belas pasal Tiga yang berbunyi, "Apabila perut terlalu penuh, keluarlah fi'il (perbuatan) yang tiada senonoh."
Kembali ke tema keteladanan kepemimpinan, Nabi Yusuf Alaihis Salam juga pernah mencontohkan keteladan sebagai seorang pemimpin, di dalam kitab Sirojul Muluk diriwayatkan bahwa setelah Allah menempatkan beliau di negeri Mesir dan menganugerahinya perbendaharaan dunia karena doanya dikabulkan yang diabadikan dalam surah Yusuf (ayat 55) yang berbunyi,
( اجعلني على خزائن الأرض إني حفيظ عليم )
Di tangan beliau ada perbendaharaan kekayaan dunia (negeri Mesir) yakni kerajaan dan kunci-kunci perbendaharaan negeri Mesir semuanya. Namun bersama itu semua beliau tetap memilih senantiasa berada dalam kondisi lapar. Kemudian ditanyakan kepadanya, "Anda dengan semua yang telah dianugerahkan oleh Allah kepada anda daripada semua kenikmatan kekayaan ini, mengapa masih memilih dalam kondisi lapar?" Beliau berkata,
أنا أخشى إن شبعت أن أنسى الجائعين
"Aku khawatir jika aku kenyang, aku akan melupakan orang-orang yang kelaparan." (Sirojul Muluk hal. 129)
Jawaban Nabi Yusuf Alaihis Salam tersebut tentu merupakan satire yang sangat tepat ditujukan untuk manusia zaman ini. Dimana dunia (terutama dunia Islam) sedang mengalami krisis keteladanan dari para pemimpinnya. Umat hari ini kekurangan para pemimpin yang mau menderita demi rakyatnya seperti yang diteladankan oleh para Nabi dan Salaf Saleh. Adakah pemimpin di zaman ini yang berani mentalak kenikmatan dunia semenjak hari pertama dilantik sebagai seorang Khalifah seperti yang dilakukan oleh Umar bin Abdul Aziz dimana saking adilnya masa kepemimpinannya hingga diriwayatkan bahwa serigala dan domba bisa makan bersama tanpa ada yang memangsa dan dimangsa satu sama lain.
Alih-alih mendapatkan sosok pemimpin seperti Umar bin Abdul Aziz, hari ini justru kita saksikan umat Islam bagaikan kawanan domba yang disuruh memilih para serigala lima tahunan yang silih berganti "memangsa" hak hidup para pemilihnya lewat perilaku korupsi dan kebijakan yang tidak pro kepada kepentingan rakyat.
Dalam lingkup yang lebih luas, kita dapat melihat pada saat rakyat Palestina di jalur Gaza dibantai dalam proses Genosida, mayoritas para pemimpin Negeri Islam (terutama Arab) memilih diam tidak berani membela. Membuka perbatasan tidak berkenan, memutus hubungan bilateral dengan kolonialis Zionis pun tidak ada nyali. Semua itu dengan dalih mengamankan kepentingan dan stabilitas dalam negeri masing-masing dan masa bodoh dengan Palestina yang dibumihanguskan. Kemudian ketika Zionis dan AS menyerang Iran, negara Islam di kawasan Teluk tidak banyak bergerak dan bahkan negeri mereka selama ini adalah tempat pangkalan militer AS yang digunakan untuk mendiktekan kepentingan AS dan Zionis di Timur Tengah.
Di Indonesia demikian pula. Banyak ketimpangan sosial dan hukum yang jelas terjadi di tengah masyarakat. Yang kaya makin kaya dan yang miskin makin dimelaratkan secara sistematis lewat kebijakan penguasa. Kemiskinan rakyat berbanding terbalik dengan kekayaan para pejabat korup yang sibuk memperkaya diri dan keluarganya. Masih panas berita di negeri ini mengenai sebuah keluarga yang sibuk mengotak-atik undang-undang di negara ini demi memuluskan jalan dinasti keluarganya. Kemudian ada lagi yang masih hangat gurita korupsi keluarga seorang bupati di Jawa Tengah yang melakukan KKN demi memperkaya keluarganya sendiri. Padahal jumlah kekayaan si mantan biduan dangdut itu sudah mencapai puluhan milyar rupiah yang tidak akan habis dimakan oleh tujuh turunan. Belum lagi kasus oknum Polisi yang malah menjadi beking daripada jaringan bandar narkoba dan mirisnya juga melakukan penyimpangan perilaku seksual seperti yang terjadi di Bima Nusa Tenggara Barat. Dan masih banyak lagi contoh kasus yang tidak bisa dijabarkan semuanya. Kebobrokan para pemimpin negeri Islam ini semua sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Imam Al Haddad,
اما إن هذا الدهر قد ضل اهله
همومهم في لذة الفرج و الاكل
"Adapun zaman ini sungguh telah sesat umatnya. Fokus (perhatian) mereka hanyalah pada kenikmatan seks dan makanan belaka"
Bahkan lebih bernas lagi dikatakan bahwa, "Saat ini kebanyakan manusia mengaku bahwa dirinya adalah termasuk daripada para orang besar (mulia) padahal sejatinya ia adalah daripada paling rendahnya kaum. Mereka mengaku sebagai hamba Allah padahal hakikatnya adalah hamba syahwat, hamba perut dan hamba kelamin (seks)" (Kalam Habib Ahmad bin Smith, Hal. 201)
Nah, dari semua penjabaran krisis akut kepemimpinan ini, marilah kita jadikan Ramadhan ini sebagai momentum yang tepat untuk mendidik nafsu diri agar menjadi hamba yang bertakwa seperti tujuan utama disyariatkan ibadah puasa. Sebab dari ketakwaan sejati yang terbentuk dari madrasah Ramadhan ini -dengan izin Allah- kelak pasti akan lahir kembali para pemimpin teladan yang bertakwa kepada Allah sekelas Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz di tengah umat Islam. Yang mana para pemimpin teladan itu hanya takut kepada Allah. Takut menyia-nyiakan umat. Memandang dunia dan isinya sama nilainya dengan debu belaka. Dan yang pasti tidak gentar kepada para musuh Allah. Wallahu A'lam Bis Showab
BACA JUGA
Kategori:
Good Leader In Islamic worldview
Krisis Keteladanan
Leadership In Islam
Mendidik Nafsu
opini
Pemimpin Teladan
Perang Iran vs Israel
Ramadhan Madrasah Penyucian Jiwa
