Kedudukan Sholat Dalam Pandangan Islam (Catatan Untuk Para Penghina Sholat)
Oleh: Muhammad Syafii Kudo
اِنَّنِيْٓ اَنَا اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدْنِيْۙ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ
“Sesunggungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”. (QS Thaha:14)
Setelah proklamasi ketuhanan yang mentahbiskan diriNya adalah Tuhan semesta alam, Allah kemudian menyuruh jin dan manusia agar menyembah kepada Nya dan agar mendirikan sholat untuk senantiasa mengingat Nya. Tentu orang beriman dan berakal sehat paham bahwa ayat tersebut bukan sekedar ayat biasa. Ada pesan yang jelas bagaimana tingginya kedudukan ibadah sholat di sisi Allah. Diawali proklamasi diri sebagai Tuhan yang tiada yang berhak disembah selainNya, lalu perintah tauhid agar menyembah kepada Nya semata dan disusul dengan perintah syariat berupa ibadah sholat untuk selalu mengingat diri Nya. Maka jelas sudah tidak ada lagi keraguan bahwa sholat adalah amalan Syariat tertinggi. Apalagi jika merujuk kepada rukun Islam dimana sholat menempati urutan kedua setelah syahadat.
Hal ini diperkuat dengan hadis Nabi,
بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلَاةِ
“(Batas) antara seseorang dengan kekufuran dan kesyirikan adalah meninggalkan shalat”. (HR Muslim, Ahmad dan yang lainnya)
Batas terjelas pembeda keimanan dan kekufuran adalah mengenai pelaksanaan ibadah sholat. Kemudian Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wa Sallam juga mengatakan,
وَاعْلَمُوْا أَنَّ خَيْرَ أَعْمَالِكُمُ الصَّلَاةُ
“Ketahuilah bahwa sebaik-baik amal kalian adalah shalat.” (HR Ahmad)
Hadis ini diperkuat oleh hadis lain yang berbunyi,
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قاَلَ رَسُولُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( إنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ ، فَإنْ صَلُحَتْ ، فَقَدْ أفْلَحَ وأَنْجَحَ ، وَإنْ فَسَدَتْ ، فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ ، فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ ، قَالَ الرَّبُ – عَزَّ وَجَلَّ – : اُنْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ، فَيُكَمَّلُ مِنْهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيضَةِ ؟ ثُمَّ تَكُونُ سَائِرُ أعْمَالِهِ عَلَى هَذَا )) رَوَاهُ التِّرمِذِيُّ ، وَقَالَ : (( حَدِيثٌ حَسَنٌ ))
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Maka, jika shalatnya baik, sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Dan jika shalatnya rusak, sungguh ia telah gagal dan rugi. Jika berkurang sedikit dari shalat wajibnya, maka Allah Ta’ala berfirman, ‘Lihatlah apakah hamba-Ku memiliki shalat sunnah.’ Maka disempurnakanlah apa yang kurang dari shalat wajibnya. Kemudian begitu pula dengan seluruh amalnya.” (HR. Tirmidzi, ia mengatakan hadits tersebut hasan.) [HR. Tirmidzi, no. 413 dan An-Nasa’i, no. 466]
Ada pula Hadis yang menyatakan,
وَعَمُوْدُهُ الصَّلَاةُ
“Tiang agama Islam ini adalah shalat.” (HR Tirmidzi)
Sebuah bangunan yang tidak ada tiang penyangganya maka keniscayaan yang terjadi adalah bangunan itu pasti akan roboh. Dan robohnya agama Islam adalah manakala ibadah sholat sudah ditinggalkan.
Ada sebuah maqolah yang mengatakan,
الصلاة هي حبل الوصل الممدود بين العبد وربه، وعمود الدين الذي يحفظ للمرء اتصاله بالخالق. من حافظ عليها ظلّ موصولاً، ومن تركها فقد انقطع عن ربه
Shalat adalah tali penghubung yang menghubungkan seorang hamba dengan Tuhannya, dan pilar agama yang menjaga hubungan seseorang dengan Sang Pencipta. Siapa pun yang memeliharanya akan tetap terhubung, dan siapa pun yang meninggalkannya akan terputus dari Tuhan Nya.
Melihat demikian agungnya kedudukan sholat di sisi Allah maka pantas saja jika para Sahabat Nabi Radiyallahu Anhum sangat memuliakan ibadah yang merupakan oleh-oleh terindah yang diberikan oleh Allah kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam dalam kisah perjalanan rohani teragung yakni Isra' Mikraj. Salah satu Sahabat Nabi yang sangat memuliakan syiar-syiar Allah adalah Ibnu Abbas Radhiallahu Anhuma.
وقال طاووس : ما رأيت أحداً كان أشد تعظيماً لحرمات الله عز وجل من ابن عباس رضي الله عنهما
Imam Thawus Rahimahullah mengatakan, "Aku tidak melihat seseorang yang begitu besar penghormatannya terhadap Allah (termasuk syi'ar-syi'ar Nya) daripada Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma.
Siapakah Imam Ibnu Abbas Radhiallahu Anhuma?
عبد الله بن عباس (3 ق.هـ - 68 هـ) هو صحابي جليل، ومفسّر، وفقيه، ومحدث، وابن عم النبي محمد صلى الله عليه وسلم، يُلقب بـ "حبر الأمة" و"ترجمان القرآن". ولد في مكة، ودعا له النبي بقوله: «اللهم فقهه في الدين وعلمه التأويل». يعتبر من أكثر الصحابة رواية للحديث (1660 حديثًا) وكان مرجعًا علميًا كبيرًا.
Beliau adalah Sahabat Nabi yang mulia, ahli tafsir, faqih, muhaddis, putra dari paman Nabi yakni Sayyidina Abbas Radhiyallahu Anhu, nama dan nasab lengkap Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma adalah Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib Al Hasyimi Al Quraisy. Beliau diberi gelar Sang Tinta Umat, dan Sang Penerjemah Al Qur'an. Dilahirkan di kota Mekkah dan pernah mendapatkan doa dari Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wa Sallam, "Ya Allah berilah kepahaman yang dalam kepadanya dalam ilmu agama dan berilah ilmu (cerdaskan) dia dalam masalah takwil." Beliau meriwayatkan hadis kurang lebih 1660 hadis.
Gambaran singkat biografi Sahabat Ibnu Abbas Radhiallahu Anhuma di atas tentu sudah sedikit banyak menggambarkan betapa tingginya kedudukan beliau baik dari sisi nasab, keilmuan, dan kealiman. Banyak teladan yang bisa kita ambil dari beliau. Salah satunya mengenai pengagungan beliau terhadap Allah (melalui) pengagungan terhadap syi'ar-syi'ar Nya seperti yang diungkapkan oleh Imam Thawus di awal tulisan ini. Diriwayatkan bahwa,
وعن ابن سماك : أن ابن عباس سقط في عينيه الماء، فذهب بصره ، فأتاه المعالجون
فقالوا : خل بيننا وبين عينيك ، فإنها تبرأ إن شاء الله تعالى ، ولكنك تمسك خمسة أيام لا تصلي ، قال : لا والله ، ولا ركعة واحدة ، وإلي حدثت : أنه من ترك صلاة عمداً ...لقي الله عز وجل وهو عليه غضبان
Dari Ibnu Sammak Rahimahullah meriwayatkan sesungguhnya mata Ibnu Abbas Radhiallahu Anhuma terkena air yang mengakibatkan penglihatan beliau hilang. Kemudian beberapa dokter mendatanginya dan berkata, "Biarkanlah (kami obati) kedua matamu, karena ia Insyaallah akan sembuh. Akan tetapi engkau harus menahan diri selama lima hari untuk tidak melaksanakan sholat." Ibnu Abbas Radhiallahu Anhuma kemudian menjawab, Tidak, demi Allah, tidak akan aku tinggalkan meski satu raka'at saja. (Karena) kepadaku diriwayatkan (hadis Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam) bahwa sesungguhnya siapa yang meninggalkan sholat dengan sengaja maka dia akan bertemu dengan Allah dalam keadaan Allah sangat marah kepadanya. (Al Alim Syarif Muhammad bin Hasan bin Abdillah Al Husaini Al Wasithi, kitab Majma'ul Ahbab Wa Tadzkiratu Ulil Albab Juz Awal hal 420, 2008, cet. Darul Minhaj)
Lihatlah seorang Sahabat Nabi yang dijuluki sebagai sang penerjemah Al Qur'an dan "paling paham" takwil dan ilmu agama (berkat doa Nabi) tidak rela meninggalkan ibadah sholat walau satu rakaat saja meskipun dalam keadaan sakit. Karena beliau sangat mengetahui kedudukan sholat di dalam agama Islam. Para Sahabat Nabi lebih memilih tetap dalam keadaan sakitnya daripada harus meninggalkan sholat.
Mengapa penulis mengangkat pembahasan mengenai sholat? Tidak lain karena tiang agama ini belakangan sedang digoyang, dihinakan, dan dijadikan bahan lelucon oleh orang-orang yang bodoh ilmu agama namun ironisnya dianggap "pintar" dalam pandangan masyarakat akhir zaman. Padahal tidaklah datang suatu zaman melainkan ia lebih buruk (keadaannya dalam perkara agama) daripada zaman sebelumnya. Di dalam Al Qur'an disebutkan,
فَخَلَفَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡ خَلۡفٌ أَضَاعُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَٱتَّبَعُوا۟ ٱلشَّهَوَ ٰتِۖ فَسَوۡفَ یَلۡقَوۡنَ غَیًّا
“Kemudian datanglah setelah mereka, generasi pengganti yang mengabaikan salat dan mengikuti keinginan syahwatnya, maka mereka kelak akan mendapat adzab” [QS.Maryam : 59]
Orang-orang di akhir zaman bukan hanya meremehkan sholat bahkan mereka berani mengolok-olok ibadah sholat buat bahan lelucon mereka. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan,
ﻭَﻳْﻞٌ ﻟِﻠَّﺬِﻯ ﻳُﺤَﺪِّﺙُ ﻓَﻴَﻜْﺬِﺏُ ﻟِﻴُﻀْﺤِﻚَ ﺑِﻪِ ﺍﻟْﻘَﻮْﻡَ ﻭَﻳْﻞٌ ﻟَﻪُ ﻭَﻳْﻞٌ ﻟَﻪُ
“Celakalah bagi orang yang berbicara lalu berdusta hanya karena ingin membuat suatu kaum tertawa. Celakalah dia, celakalah dia .”(HR. Abu Daud no. 4990 dan Tirmidzi no. 3315)
Imam Ibnu Taimiyah Rahimahullah mengatakan dalam fatwanya,
ﺇﻥ ﺍﻟﻜﺬﺏ ﻻ ﻳﺼﻠﺢ ﻓﻲ ﺟﺪ ﻭﻻ ﻫﺰﻝ
“Sesungguhnya berdusta tidak boleh baik dalam keadaan serius maupun bercanda”(Majmu’ Fatawa 32/255-256)
Beliau juga berkata,
ﻭﺃﻣﺎ ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﻣﺎ ﻓﻴﻪ ﻋﺪﻭﺍﻥ ﻋﻠﻰ ﻣﺴﻠﻢ ﻭﺿﺮﺭ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻳﻦ ؛ ﻓﻬﻮ ﺃﺷﺪ ﺗﺤﺮﻳﻤﺎ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ . ﻭﺑﻜﻞ ﺣﺎﻝ : ﻓﻔﺎﻋﻞ ﺫﻟﻚ ﻣﺴﺘﺤﻖ ﻟﻠﻌﻘﻮﺑﺔ ﺍﻟﺸﺮﻋﻴﺔ ﺍﻟﺘﻲ ﺗﺮﺩﻋﻪ ﻋﻦ ﺫﻟﻚ
“Apabila hal tersebut (dusta) menimbulkan permusuhan di antara kaum muslimin dan menimbulkan madharat bagi agama, maka ini lebih terlarang lagi. Pelakunya harus mendapatkan hukuman syar’i yang bisa membuatnya jera.”(Majmu’ Fatawa 32/255-256)
Di dalam Al Qur'an Allah bahkan telah menyiapkan ayat "khusus" bagi para pengolok agamaNya yang berbunyi,
وَلَىِٕنْ سَاَلْتَهُمْ لَيَقُوْلُنَّ اِنَّمَا كُنَّا نَخُوْضُ وَنَلْعَبُۗ قُلْ اَبِاللّٰهِ وَاٰيٰتِهٖ وَرَسُوْلِهٖ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِءُوْنَ
Sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, mereka pasti akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah, “Apakah terhadap Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”(QS. At Taubah : 65)
Syaikh Abdurrahman As-Sa’di Rahimahullah dalam kitab tafsirnya menjelaskan bahwa hukum mengolok-olok agama Allah sangat berat yaitu bisa keluar dari agama Islam. Beliau berkata,
فإن الاستهزاء باللّه وآياته ورسوله كفر مخرج عن الدين لأن أصل الدين مبني على تعظيم اللّه، وتعظيم دينه ورسله
“Mengolok-olok dalam agama, ayat Al-Quran dan Rasul-Nya termasuk kekafiran yang bisa mengeluarkan dari Islam, karena agama ini dibangun di atas pengagungan kepada Allah, agama dan Rasul-Nya.”
Lantas bagaimana sikap seorang Mukmin menyikapi orang-orang yang berani menjadikan ayat-ayat maupun syi'ar Allah sebagai bahan lelucon tersebut? Jawabannya adalah,
وَذَرِ الَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا دِيْنَهُمْ لَعِبًا وَّلَهْوًا وَّغَرَّتْهُمُ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا وَذَكِّرْ بِهٖٓ اَنْ تُبْسَلَ نَفْسٌۢ بِمَا كَسَبَتْۖ
"Tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agamanya sebagai permainan dan senda gurau, dan mereka telah tertipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengan Al-Qur'an agar setiap orang tidak terjerumus (ke dalam neraka), karena perbuatannya sendiri"(QS. Al An'am: 70)
Tinggalkan (boikot) mereka dengan tetap peringatkan mereka dengan Al Qur'an sebagai bentuk amar makruf nahi mungkar dan sebagai bentuk nasihat (kasih sayang) agar mereka kembali (bertaubat) kepada Allah. Terlepas apa Mens Rea alias Niat Jahat (Pikiran Batiniah) yang melandasi tindakan mereka menjadikan agama Allah sebagai bahan bercandaan. Hanya pelakunya dan Allah yang tahu. Tugas kita hanya membela kehormatan syiar agama Allah dan menasehati sesama Muslim . Dan selebihnya kita juga berdoa seperti doa yang dipanjatkan oleh Bapak para Nabi yakni Nabi Ibrahim Alaihis Salam,
رَبِّ اجْعَلْنِيْ مُقِيْمَ الصَّلٰوةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْۖ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاۤءِ
"Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan sebagian anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku."(QS. Ibrahim: 40) Wallahu A'lam Bis Showab
