Menakar Kembali Kepatuhan Kepada Kyai
Oleh : Muhammad Syafii Kudo*
"Nderek Gus e" adalah salah satu Kredo khas warga Nahdliyyin (baik kalangan Pesantren maupun non pesantren) yang masih kuat dipegang hingga saat ini. Slogan yang menunjukkan bahwa kepatuhan kepada mereka yang dianggap memiliki "kedudukan" tinggi (secara nasab) dalam lingkup sosiologis masyarakat Islam pedesaan seolah merupakan harga mati yang tidak ada celah untuk ditawar lagi.
Kepatuhan kepada mereka yang berasal dari kalangan darah biru Pesantren (Gus, Lora dsj) sebenarnya berakar dari tradisi Pesantren yang diajarkan sedari dini mengenai adab. Beradab kepada para Kyai (Ulama) adalah termasuk di dalamnya dengan memuliakan orang-orang yang dicintai oleh si Ulama seperti keluarga, anak keturunan ataupun sahabat kinasih si Kyai. Di dalam kitab Adabul Alim Wal Muta'alim, Hadratus Syekh Muhammad Hasyim Asy'ari menjelaskan pada Bab tiga mengenai Adab Seorang Murid (Santri) terhadap Gurunya (Ulama) disebutkan,
والخامس ان يعرف له حقه ولا ينسى له فضله ، وان يدعو له مدة حياته وبعد ماته، ويُراعى ذريته و اقاربه و اودائه، ويتعاهد زيارة قبره والاستغفار له والصدقة عنه
"Fasal kelima daripada adab seorang murid (santri) terhadap gurunya adalah hendaknya si murid mengetahui hak si guru dan tidak lupa keutamaannya. Dan hendaknya si murid mendoakan si guru semasa si guru masih hidup maupun setelah meninggal dunia. Dan hendaknya bagi si murid menjaga (menaruh perhatian) kepada anak (keturunan) si guru, kerabatnya, dan orang-orang yang dikasihi si guru. Serta senantiasa melazimi berziarah ke makam si guru dan beristiqfar dan bersedekah untuknya..."(Adabul Alim Wal Muta'alim, cetakan Maktabah Turats Al Islami Ma'had Tebuireng Jombang, hal. 30-31).
Menjaga atau menaruh perhatian kepada anak keturunan seorang Kyai atau Tuan Guru dalam pasal kelima adab murid terhadap gurunya tersebut adalah salah satu "dalil" yang dipakai oleh masyarakat Islam pedesaan terutama Pesantren dalam memuliakan para keturunan Kyai yang lumrah disebut Gus atau Lora. Dan gelar Gus atau Lora ini merupakan status sosial yang tinggi dalam hierarki sosial masyarakat Pesantren.
Dalam teori Status Sosial yang dikemukakan oleh Ralph Linton, sebenarnya status sosial dibagi menjadi tiga jenis, yakni ascribed status (diperoleh sejak lahir), achieved status (diperoleh melalui usaha sendiri), dan assigned status (diberikan oleh pihak lain). Status-status ini yang nantinya menentukan posisi seseorang dalam masyarakat serta berpengaruh kepada tingkatan hak dan kewajibannya. Dan jika ditilik dari tiga klasifikasi tersebut, para Gus bisa dikatakan masuk ke dalam kelompok Ascribed Status, alias diperoleh sejak lahir. Ini mirip seperti anak bangsawan atau anak raja yang juga mewarisi status sosial dari kedua orang tuanya.
Dan persoalan dimulai dari sini. Para darah biru Pesantren (Gus dan Ning) dengan privilage yang dimiliki semenjak lahir, berpotensi besar tergelincir ke dalam perbuatan yang kurang mulia jika dia tidak berhati-hati. Status sosial yang "nderek" langsung dari kedua orang tuanya (Kyai dan Bu Nyai) bisa menipu diri jika tidak disikapi dengan bijak. Penghormatan masyarakat kepada para Kyai yang di dalamnya termasuk dengan jalan pemuliaan kepada para keturunannya (Gus dan Ning) adalah suatu bentuk ujian terselubung yang patut diwaspadai oleh para keturunan Kyai. Karena resiko ghurur binafsihi alias tertipu oleh diri sendiri sangat berpeluang besar untuk terjadi.
Dan contoh nyata dari ketertipuan pada diri sendiri itu kini nyata terjadi. Jagad Maya sedang rame-ramenya membahas kelakuan nyeleneh para oknum Gus. Warganet kini banyak yang menghujat kelakuan "menyimpang" para oknum Gus yang kebetulan viral di berbagai lini media sosial. Imbasnya bukan hanya kepada pribadi si Gus namun mengarah ke sesuatu yang lebih besar yakni kepada para Kyai, Pesantren dan bahkan kepada Jam'iyyah Nahdlatul Ulama (NU). Kenapa NU ikut terseret hujatan? Padahal oknum Gus itu tidak secara langsung membawa nama NU. Menurut penulis, jawabannya mudah saja, karena masyarakat memahami bahwa yang biasa mengadakan pengajian dan sholawatan massal dari panggung ke panggung adalah orang NU. Yang pengajiannya banyak dihadiri lelaki dan wanita dalam satu tempat (baik ikhtilat atau tidak) adalah orang NU. Yang biasa memuliakan anak Kyai meskipun kadang belum Alim juga adalah orang NU. Yang biasa mengadakan pengajian model guyonan bahkan kadang dicampur unsur hiburan berlebihan seperti dangdutan juga orang NU. Bahkan tidak ada ormas Islam yang paling akrab dengan rokok selain NU sehingga rokok pasti identik dengan NU hingga muncul satire yang berbunyi NU Smoking. Nah dari semua ciri khas itulah, akhirnya terjadi labelisasi negatif terhadap NU. Lantas salahkah masyarakat melakukannya? Salah jika dilakukan secara gebyah-uyah namun yang lebih bijak boleh saja diterima sebagai sebuah kritik diri agar ke depannya Jam'iyyah para Ulama dan Santri ini bisa berbenah. Sebab warganet dalam menyalahkan sesuatu memang tidak bisa sebijak yang seharusnya dilakukan. Mereka akan memukul rata apa yang nampak memiliki keterkaitan dengan objek yang sedang dijadikan sasaran.
Saatnya Nahdliyyin Introspeksi Diri
Nahdlatul Ulama (NU) yang didirikan oleh para Ulama besar diakui atau tidak kini mulai tercoreng kewibawaannya oleh para oknum Gus-Gus nyeleneh. Beberapa Ulama mengatakan bahwa fenomena Gus-Gus muda yang nyeleneh-nyeleneh itu disebabkan oleh terlalu cepatnya mereka diberi Mikrofon dan diberi panggung daripada diberikan amanah agar fokus belajar dan mengajarkan kitab kuning (turats) baik di pesantren maupun di berbagai lembaga pendidikan Islam lainnya. Akibatnya, banyak kini didapati di atas panggung para oknum Gus-Gusan yang dari mulutnya keluar kata-kata cabul, candaan menghina, umpatan, guyonan tanpa ilmu dan sejenisnya. Termasuk contohnya adalah yang sedang viral saat ini. Bagaimana bisa seorang mubaligh melakukan tindakan tak senonoh (mencium sambil menyedot) pipi para bocah perempuan di atas panggung. Dan bagaimana bisa seorang pendakwah (Gus) mengatakan bahwa rokok favoritnya mengandung nilai Tauhid yang mana tidak ada satupun orang dalam lintasan sejarah umat Islam sedunia yang pernah mengatakan hal se-absurd itu.
Dalam filosofi lambang Nahdlatul Ulama yang dirancang oleh murid dari Syaikhona Kholil Bangkalan yang bernama KH. Ridwan Abdullah, ada terpampang jelas sebuah simpul tali yang mengikat bola dunia dimana di bagian bawah, tali diikat tidak dengan talian mati alias agak dibuat kendor. Ini menandakan bahwa NU menganut prinsip Ahlussunah Wal Jama'ah yang wasatiyah alias tidak kaku (ekstrem kanan) dan sekaligus tidak longgar berlebihan (liberal). Fleksibel namun memiliki prinsip tegak lurus kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam. Namun jika melihat fenomena yang terjadi akhir-akhir ini, wajar belaka jika ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwasanya tali pengikat dalam lambang NU itu nampaknya sudah terlalu kendor dari yang diikatkan oleh para Masyayikh NU. Bahkan ditakutkan jika tidak lekas dikencangkan kembali akan menjadi terlepas ikatan tali itu. Pesan ini menyiratkan kekhawatiran umat dan para Ulama dalam menyikapi NU yang sedang mengalami turbulensi akibat ulah para oknum Gus yang kurang baik akhir-akhir ini.
Bagaimana cara mengencangkan kembali tali pengikat itu? Tentu dengan kembali kepada ajaran para Masyayikh pendiri yang bersanad hingga kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam.
Di dalam kitab Adabul Alim Wal Muta'alim, Hadratus Syekh Muhammad Hasyim Asy'ari menukil kalam dari Sufyan bin Uyainah Radiyallahu Anhu yang berbunyi,
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم هو الميزان الأكبر، وعليه تعرض الأشياء على خلقه وسيرته وهداه، فما وافقها فهو الحق، وما خالفها فهو الباطل
"Sesungguhnya Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam adalah timbangan yang agung. Kepadanya dikemukakan beberapa hal (yang patut dicontoh) mengenai akhlaknya, perjalanan hidupnya, dan petunjuknya. Maka apa-apa yang sesuai dengan akhlak dan perilaku Rasulullah maka hal itu dianggap sebagai kebenaran dan apa-apa yang menyelisihi akhlak dan perilaku Rasulullah maka hal itu dianggap sebagai sesuatu yang batil."(Adabul Alim Wal Muta'alim, Cet. Maktabah Turats Al Islami Tebuireng Jombang Jawa Timur, hal 10).
Dengan menukil kalam tersebut, Hadratus Syekh Hasyim Asy'ari hendak mengingatkan kepada semua umat Islam bahwa di alam semesta ini semua hal sebelum dinilai benar atau salah harus berdasarkan timbangan yang sah. Dan timbangan yang paling otoritatif itu adalah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam. Artinya siapapun orangnya tidak peduli Ulama, Kyai, Gus, Tuan Guru, Lora dsj jika akhlak dan perilaku mereka tidak sesuai dengan Nabi maka mereka berada di atas rel kebatilan. Dan sebaliknya jika para tokoh masyarakat itu telah sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Nabi maka mereka nyata berada di atas rel kebenaran. Ini menunjukkan bahwa di dunia ini hanya ada dua jenis golongan yakni kelompok yang Haq dan kelompok yang Batil. Putih dan hitam. Tidak ada pilihan ketiga alias abu-abu.
Sayyidut Thaifah panutan para Ulama NU, Syekh Junaid Al Baghdadi mengatakan,
الطرق كلها مسدودة عن الخلق إلا من إقتفى أثر رسول الله صلى الله عليه وسلم واتبع سنته ولزم طريقته, لأن طرق الخيرات كلها مفتوحة عليه وعلى المقتفين أثره والمتابعين
"Semua jalan telah tertutup bagi manusia, kecuali bagi mereka yang meneladani Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam dan berpegang teguh pada sunnah dan jalannya. Karena semua jalan kebaikan telah terbuka untuknya dan bagi mereka yang meneladani dan berpegang teguh pada jalannya."(Tajul Arifin: 152).
Imam Al Qusyairi dalam Risalah Qusyairiyah mengutip perkataan Imam Junaid Al Baghdadi yang menyatakan,
علمنا مضبوط بالكتاب والسنة، ومن لم يحفظ القرآن، ولم يكتب الحديث، لا يقتدى به
"Ilmu kami (tasawuf) berlandaskan Al Qur'an dan Hadis. Maka barangsiapa yang tidak menghapal Al Qur'an dan tidak menulis (kitab) Hadis, jangan (orang itu) diikuti."
Pernyataan para pembesar Islam di atas jelas menafikan semua kelakuan nyleneh para Gus-Gus yang belakangan bikin gaduh tersebut. Tidak ada ceritanya menciumi anak kecil (kelakuan cabul) dan juga menyandingkan Tauhid dengan rokok dibenarkan oleh Al Qur'an dan Hadis. Malahan semua hal itu haram dan dilaknat oleh Allah. Artinya orang-orang semacam itu dilarang alias haram untuk diikuti dan ditaati sebab tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam rangka bermaksiat kepada Allah.
Pernah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam beri’tikaf di masjid, lalu dikunjungi oleh Shafiyyah pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Shafiyyah mendatangi Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam pada malam hari lalu berbincang-bincang dengan beliau. Kemudian Nabi mengantarkan Shafiyyah pulang ke rumah. Nabi mengatakan kepada Shafiyyah ketika itu, “Jangan engkau terburu-buru, nanti aku akan menemanimu pulang.” Ketika itu rumah Shafiyyah di rumah Usamah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengantarkan Shafiyyah pulang. Ketika itu mereka bertemu dengan dua orang Anshar di jalan. Mereka berdua memandang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (dengan penuh curiga), kemudian mereka melewati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Shafiyyah, untuk menghilangkan kecurigaan mereka, beliau pun berkata, “Sini, ini adalah istriku Shafiyyah binti Huyay.” Mereka berdua pun mengatakan, “Subhanallah, wahai Rasulullah.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,
إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِى مِنَ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ ، وَإِنِّى خَشِيتُ أَنْ يُلْقِىَ فِى أَنْفُسِكُمَا شَيْئًا
“Sesungguhnya setan mengalir dalam diri manusia melalui pembuluh darahnya. Aku benar-benar khawatir ada sesuatu prasangka jelek yang ada dalam diri kalian berdua.” (HR. Bukhari, no. 2038 dan Muslim, no. 2175)
Lihat sekelas Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam saja mencegah agar orang lain tidak punya prasangka buruk kepada beliau padahal saat itu beliau bersama istrinya, semua itu agar tidak terjadi fitnah di antara umat. Ini tentu sangat berlawanan dengan kelakuan para oknum Gus yang malah melakukan hal tak senonoh di depan kamera dan jamaahnya dengan seseorang yang bukan keluarga atau mahramnya yang jelas sekali menimbulkan fitnah besar di tengah umat. Dan seperti kaidah yang kita ketahui, tergelincirnya seorang tokoh juga akan menggelincirkan umat yang mengikutinya.
Kemudian ada pula oknum Gus yang mengatakan bahwa rokoknya bernilai Tauhid atau ada pula yang menyatakan bahwa dalam setiap hisapannya ada nilai pahalanya. Ini tentu bentuk pelecehan kepada ajaran Islam. Nama Allah yang agung disandingkan dengan nama rokok, nampaknya dalam sejarah umat Islam dari zaman Nabi sampai hari ini baru kali ini terjadi. Dan Gus-Gus modelan ini biasanya menisbatkan kelakuannya pada tasawuf dan Sufi. Padahal Pemimpin kaum Sufi, Imam Junaid Al Baghdadi menyatakan,
وحين سئل الإمام الجنيد- رحمه الله تعالى- عن التصوف ما هو؟ فقال: «التصوف اجتناب كل خلق دني، واستعمال كل خلق سُنِّيّ، وأن تعمل لله ثم لا ترى أنك عملت
"Imam Junaid ditanya tentang tasawuf apakah hakikatnya? Beliau menjawab, tasawuf adalah menjauhi setiap akhlak yang jelek dan mengamalkan setiap akhlak yang mulia. Dan beramal karena Allah semata lalu tidak melihat bahwa ia telah beramal." (Tajul Arifin : 151)
Rokok menurut Habib Ahmad bin Umar bin Smith, bisa menafikan (mencegah) seseorang untuk bersiwak, kami tidak mengatakan diharamkan namun diharamkan (pengkonsumsinya) dari majelis-majelis kebaikan.
Imam Abdullah bin Alwi Al Haddad ketika berada di Mekkah Al Mukaromah dalam perkumpulan para Ulama yang banyak di sebuah tempat yang luas pernah ditanya mengenai pendapatnya mengenai rokok apakah halal atau haram. Beliau menjawab, aku tidak mengatakan kepada kalian apakah ia halal atau haram namun aku katakan,
من يشربه ما فيه خير
"Barangsiapa siapa yang menghisapnya maka tidak ada di dalamnya kebaikan." (Tuhfatul Ashraf Juz 1 hal. 82-83)
Lihat bagaimana para Ulama yang juga pentolan kaum Sufi menolak semua klaim bohong mengenai rokok tersebut. Bahkan disebutkan bahwa Tasawuf adalah akhlak seluruhnya. Barangsiapa yang bertasawuf maka dia (semakin) berakhlak. Ini sesuai ucapan Syaikh Ruwaim bin Ahmad Al Baghdadi yang mengatakan,
التصوف هو الأخلاق، فمن زاد
عليك في الأخلاق زاد عليك في التصوف
"Tasawuf adalah akhlak, maka sesiapa yang bertambah akhlaknya maka bertambah pula dia di dalam (tingkatan) tasawuf."
Menyandingkan nama Allah dengan rokok bukanlah tanda orang berakhlak bahkan itu sangat biadab. Membaca kitab turats di hadapan jamaah sambil menghisap rokok juga bukanlah sebuah akhlak yang baik. Maka yang seperti inilah yang harus dibenahi oleh para oknum Gus agar nama besar NU tidak semakin tercoreng.
Sebagai penutup, kredo khas kalangan Nahdliyyin yang berbunyi "Nderek Gus e" maupun "Gondelan Sarung e Kyai' haruslah ditafsirkan secara bijak. Seperti dawuh Mbah Hasyim Asy'ari di atas yang menyatakan bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam adalah suatu timbangan agung dan paling otoritatif dimana semua hal bisa bernilai benar (Haq) atau salah (Batil) tergantung kesesuaiannya dengan akhlak dan perilaku Beliau tak peduli siapapun dan apapun mereka. Artinya seorang Gus, Kyai, Lora, Tuan Guru, Ustad dsj janganlah langsung diikuti secara harga mati sebab mereka tidak maksum. Timbanglah akhlak dan perilaku mereka dengan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam terlebih dahulu sebelum mengikuti mereka agar tidak tersasar dari jalan Nabi. Dan inilah momentum menakar kembali kepatuhan kita kepada makhluk (termasuk Kyai dan Gus dsj). Selama mereka tegak lurus dengan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam maka maka kita wajib sami'na wa atho'na dan sebaliknya jika mereka menyelisihi Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam maka harga mati wajib kita mengingkarinya. Dan inilah pula ajaran para pendiri Nahdlatul Ulama. Wallahu A'lam Bis Showab.
*Nahdliyyin Pasuruan
BACA JUGA
Kategori:
Fenomena Gus Nyeleneh
Manut Gus e
Manut Ulama
nahdlatul ulama
Nderek Kyai
NU Dalam Sorotan
opini
Pentingnya Pendidikan Adab
