Krisis Empati Masyarakat Indonesia
Oleh : Muhammad Syafii Kudo*
![]() |
| Indonesia Now |
“If you feel pain, you are alive. But if you feel other people's pain, you are human being”
-Leo Tolstoy-
Pernyataan penulis terkenal asal Rusia di atas bisa jadi menggambarkan keadaan masyarakat Indonesia saat ini, baik dari kalangan elitnya hingga masyarakat awamnya. Dari tingkat manusia yang gelar akademiknya tinggi sampai rakyat kecil yang “makan bangku sekolah” ala kadarnya. Apa yang tergambarkan dari pernyataan Tolstoy tersebut? Yakni mengenai perasaan empati alias bisa merasakan penderitaan orang lain. Tolstoy mengatakan bahwa jika kamu bisa merasakan rasa sakit atau penderitaan maka itu bukti bahwa kamu hidup. Namun jika kamu masih bisa merasakan penderitaan orang lain maka kamu adalah manusia. Di sini Tolstoy menggambarkan garis pembeda yang tegas antara (eksistensi) keberadaan manusia dan rasa empati. Menurutnya, rasa sakit adalah bukti dari adanya sebuah (eksistensi) kehidupan, sedangkan rasa welas asih adalah bukti daripada kemanusiaan. Artinya Tolstoy mendefinisikan empati sebagai esensi daripada kemanusiaan. Rasa sakit adalah bukti dari sebuah kehidupan sedangkan empati adalah bukti daripada rasa cinta. Menjadi manusia bukan hanya tentang hidup tetapi juga tentang kepedulian merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain.
Penulis sengaja mengutip kalimat Tolstoy tersebut ketika mendapati fakta miris yang mengusik rasa kemanusiaan yang terjadi belakangan ini. Seperti marak diberitakan, seorang pasien bernama Yurizal Tri Chaerawan menjadi viral setelah dirisak dengan kalimat-kalimat tidak pantas saat ia mengunggah curhatannya di salah satu akun media sosial pada 22 Juli 2026 lalu. Dalam unggahan itu diketahui bahwa ia yang sedang menderita sakit lumayan parah harus menunggu selama 8 jam untuk mendapatkan kamar di sebuah Rumah Sakit yang tidak disebut namanya karena alasan ia adalah pasien BPJS. Beberapa waktu kemudian salah seorang kerabatnya mengunggah kabar bahwa Yurizal Tri Chaerawan meninggal dunia tepatnya pada 31 Juli 2026 akibat (salah satunya) terlambat mendapatkan perawatan di Rumah Sakit -yang belakangan berdasarkan pernyataan dari Kementerian Kesehatan- diketahui adalah Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta Pusat.
Setelah kabar kematian Yurizal ini tersiar maka beramai-ramai netizen tanah air gaduh di berbagai kanal media sosial. Mereka yang oleh Microsoft disebut sebagai netizen paling julid dan paling tidak sopan di Asia Tenggara (berdasarkan laporan Digital Civility Index) langsung menelusuri akun-akun yang terlibat berkomentar jelek, merisak dan nir empati kepada Yurizal saat mengunggah curhatannya. Dan mirisnya ternyata dari sekian pelakunya adalah oknum tenaga kesehatan (nakes). Bahkan Konsili Kesehatan Indonesia (KKI) telah mengidentifikasi sedikitnya ada 10 tenaga medis dan tenaga kesehatan yang diduga melontarkan komentar nir empati terhadap almarhum Yurizal Tri Chaerawan di media sosial. Karuan saja netizen seluruh Indonesia dibuat semakin geram mendapati fakta tersebut. Serangan doxing ke berbagai akun yang terlibat merisak curhatan almarhum Yurizal secara sporadis dilakukan. Hasilnya seperti biasa, para pelaku dari kalangan oknum tenaga kesehatan dan medis (perawat dan dokter) dengan memasang wajah memelas akhirnya mengunggah video permintaan maaf dan penyesalan. Ada yang berkilah akunnya disalahgunakan oleh suaminya, ada yang beralasan khilaf semata dan lain sejenisnya. Namun semua itu tidak mengurangi rasa geram masyarakat. Mereka tetap memberi sanksi sosial kepada para pelaku. Dan diberitakan juga bahwa instansi terkait dimana para pelaku perisakan itu bertugas juga menonaktifkan para pelaku.
Dari kejadian ini kita mendapatkan fakta miris mengenai krisis akhlak yang benar-benar terjadi di negeri ini. Bayangkan, sekelas para kalangan terdidik (akademis) yang disiapkan untuk melayani masyarakat ternyata bisa melakukan tindakan nir empati semacam itu. Para pelayan masyarakat yang idealnya harus memiliki rasa empati tinggi, humanis, dan kesabaran ekstra lebih, ternyata masih jauh dari harapan masyarakat. Fakta di lapangan? Di negara ini mulai dari tingkat pelayanan desa, kecamatan, kepolisian, dan pelayanan publik lainnya, masih jamak didapati sejumlah oknum berakhlak minus. Selain nir empati mereka juga tega menyalahgunakan jabatan mereka, alih-alih melayani publik justru mereka mengambil pungli dari masyarakat dengan dalih mempermudah pelayanan. Dalam kasus Yurizal nampak jelas bahwa beberapa oknum pelayan publik memang memandang masyarakat yang memakai fasilitas BPJS adalah masyarakat kelas dua. Seolah-olah mereka adalah penikmat jasa gratisan hasil subsidi negara. Padahal faktanya para pembayar iuran BPJS itu adalah para pembayar pajak negara, yang merupakan (salah satu) sumber gaji para aparatur sipil negara (ASN) yang bertugas melayani masyarakat. Atau jika pun para pelayan publik itu dari kalangan swasta sekalipun, apakah layak sikap nir empati semacam itu dilakukan oleh mereka yang merupakan garda terdepan melayani publik yang wajib menjunjung tinggi rasa welas asih kepada sesama. Inikah gambaran manusia Indonesia yang berlandaskan Pancasila yang menjunjung tinggi Ketuhanan dan kemanusiaan yang adil dan beradab?
Pandangan Islam
Di dalam Islam jelas dinyatakan bahwa sesama mukmin itu bersaudara. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam menyatakan dengan tegas,
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR. Bukhari no. 6011 dan Muslim no. 2586)
Yurizal adalah anak bangsa Indonesia yang saat itu sedang mengalami sakit parah. Dia mengeluhkan rasa sakitnya lewat media sosial bisa jadi hanyalah sebagai pengurang rasa sakit dan penenang psikologisnya. Bisa jadi dia saat itu butuh dukungan moril, doa, dan motivasi dari netizen untuk menguatkan diri. Karena berdasarkan penjelasan situs Alodokter, rasa optimis dan pikiran positif terbukti dapat membantu meningkatkan serta menjaga sistem kekebalan tubuh. Saat seseorang merasa bahagia dan optimis, tubuh menurunkan produksi hormon stres seperti kortisol yang dapat merusak imun, serta mendukung fungsi sel-sel kekebalan tubuh agar bekerja lebih baik. Dan dalam pandangan Islam, doa orang lain yang tidak diketahui oleh orang yang didoakan berpotensi terkabul lebih besar. Dan sebagai orang beriman seharusnya rasa sakit satu orang beriman juga bisa dirasakan oleh orang beriman lain, setidaknya rasa empati itu ada. Namun seperti yang terjadi, meskipun dukungan dan doa dari netizen tetap ada, namun ada saja hujatan, sumpah serapah dan doa agar Yurizal mati (secara tidak langsung) sebab ada oknum tenaga kesehatan yang nyeletuk bahwa kamar jenazah kosong kalau mau cepat dapat kamar.
Di dalam redaksi lain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Permisalan seorang mukmin dengan mukmin yang lain itu seperti bangunan yang menguatkan satu sama lain.” (HR. Bukhari no. 6026 dan Muslim no. 2585)
Alih-alih menguatkan, para oknum perisak (pem-bully) itu justru menghancurkan mental dan moral si korban lewat mulut tajam mereka. Sungguh persaudaraan iman tidak terjadi di sini. Padahal Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam telah memberi peringatan keras kepada siapapun yang tidak peduli kepada urusan orang lain. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam menyatakan,
مَنْ لَا يَهْتَمُّ بِأَمْرِ الْمُسْلِمِينَ فَلَيْسَ مِنْهُمْ، وَمَنْ لَا يُصْبِحُ وَيُمْسِي نَاصِحًا لِلَّهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِإِمَامِهِ وَلِعَامَّةِ الْمُسْلِمِينَ فَلَيْسَ مِنْهُمْ
"Barangsiapa tidak mempedulikan urusan kaum Muslimin, maka ia bukan termasuk golongan mereka; dan barangsiapa tidak mengawali serta mengakhiri (di pagi dan sore harinya) dengan memberikan nasihat yang tulus kepada Allah, Rasul-Nya, Kitab-Nya, pemimpin mereka, dan segenap kaum Muslimin, maka ia tidak [benar-benar termasuk golongan mereka]". (HR. Thobroni)
Darul Ifta' Mesir pernah ditanya mengenai makna hadis tersebut terutama pada kalimat فَلَيْسَ مِنْهُمْ yang maknanya 'bukanlah bagian dari golongan mereka (orang Islam). Dan lembaga pemberi fatwa Mesir tersebut menjawab,
وأما معنى «فَلَيْسَ مِنْهُمْ»: أي الذي لا يهتم بأمر المسلمين اهتمامًا كبيرًا ولا يبحث في أحوالهم، أو ينصحهم فليس أهلًا لأن يكون من المؤمنين الذين كمُلَ إيمانُهُم
"Mengenai makna ungkapan "dia bukan termasuk golongan mereka": Hal itu merujuk pada orang yang tidak menaruh perhatian mendalam terhadap urusan kaum Muslimin, tidak mencari tahu keadaan mereka, ataupun memberikan nasihat kepada mereka; orang semacam itu tidak layak digolongkan sebagai orang beriman yang memiliki keimanan sempurna." (Fatwa dikeluarkan pada 05 Juli 1987 di Mesir Nomor Fatwa : 6211, oleh Dr. Muhammad Sayid Thantawi). (Fatwa Darul Ifta Mesir)
Hikmah Peristiwa
Rasa kemanusiaan yang salah satunya dibuktikan dengan adanya sifat welas asih kepada sesama telah mengalami degradasi yang mengkhawatirkan saat ini. Dan ini merata menjangkiti hampir semua kalangan masyarakat lintas kelas sosial, baik yang awam maupun yang berlabel elite akademik sekalipun. Di sini perlunya meneladani kembali sang penyempurna akhlak (yakni Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam) mendapatkan urgensinya. Dan pelajaran yang bisa diambil dari peristiwa ini adalah hendaknya sebelum mengomentari sesuatu maka haruslah dipikirkan terlebih dahulu. Pepatah yang berbunyi Mulutmu Harimaumu adalah benar adanya.
Sayidina Ali bin Abi Thalib Karromallahu Wajhah menyatakan bahwa lidah orang berakal berada di belakang hatinya (atau pikirannya), sedangkan hati orang bodoh berada di belakang lidahnya.
Artinya, orang bijak berpikir dan merenung dahulu sebelum berbicara, sementara orang bodoh berbicara dulu tanpa dipikir. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam juga menyatakan bahwa، keselamatan manusia berada pada (selamatnya) lisan. Ada yang mengatakan bahwa perisakan (pembully-an) itu tidak dilakukan lewat lisan tapi melalui tulisan (komentar lewat jemari), jadi apakah bab mengenai dosa-dosa lisan bisa disematkan kepada mereka? Jawabannya adalah bisa. Imam Al Ghazali Rahimahullah di dalam kitab Bidayatul Hidayah mengatakan,
أن القلم أحد اللسانين
"Pena adalah salah satu dari dua lidah"
Sebuah ungkapan bijak yang bermakna bahwa tulisan mengungkapkan isi hati dan pikiran seseorang, sama halnya dengan ucapan. Pena harus dijaga agar terhindar dari kesalahan dan kekeliruan, sebagaimana halnya lidah; seseorang tidak sepatutnya menuliskan apa yang terlarang untuk diucapkan. Ada pula ungkapan yang menyatakan,
القلم واللسان ينقلان أفكار الإنسان
"Pena dan lidah menyampaikan pikiran manusia"
Jadi tulisan dan ucapan adalah sama-sama wajib untuk dijaga dari sesuatu yang dilarang oleh syariat. Apalagi di zaman digital seperti sekarang ini dimana jejak digital sangatlah kejam, mudah menyebar, gampang dilacak dan tidak sulit untuk diungkit kembali kapanpun diperlukan.
Sebagai penutup, peristiwa nir empati yang menimpa Yurizal ini adalah sebuah fenomena gunung es yang sebenarnya banyak terjadi namun kebetulan mungkin tidak viral. Bangsa ini harus banyak membenahi akhlaknya. Sebab diakui atau tidak rasa empati kemanusiaan baik dari para elit pengambil kebijakan, pelayan masyarakat dan masyarakatnya sendiri kini sudah mulai mengalami kemunduran yang parah. Pelayan tertinggi Republik bisa tidak memiliki rasa empati ketika mengambil sebuah kebijakan yang memberatkan ekonomi masyarakat dan manakala dikritisi maka dengan enteng bilang pergi saja ke negara lain jika tidak mau dengan program penguasa. Wakil Rakyat bisa tidak berempati kepada rakyat seperti saat memutuskan menaikkan gaji (tunjangan) lalu berjoget ria hingga viral di seluruh jagad media sosial di mana di saat yang sama rakyat kesusahan dengan beban pajak yang kian naik. Kemudian para pelayan publik bisa tidak berempati kepada masyarakat dengan melakukan pungli serta pelayanan yang buruk termasuk yang saat ini ramai dalam kasus Yurizal. Dan masyarakat awam pun bisa tidak berempati kepada sesamanya dimana terkadang mereka bisa saling tega mengambil hak sesama masyarakat lainnya melalui premanisme ormas dll. Inilah pekerjaan besar Bangsa kita saat ini. Seperti kata Tolstoy di atas, jika hanya bisa merasakan rasa sakit maka itu tanda bahwa kita masih hidup, namun jika masih bisa merasakan rasa sakit orang lain maka itu tanda bahwa kita masih manusia. Nah, mari meraba diri masing-masing, masih manusia-kah kita? Wallahu A'lam Bis Showab.
*Rakyat Kecil
