Mewaspadai Potensi Dosa dan Pahala Jariyah di Era Digital
Oleh : Muhammad Syafii Kudo*
Di zaman digital dimana kebebasan berekspresi seolah tanpa ada batasan seperti sekarang ini, setiap orang bisa leluasa menjadikan dirinya menjadi apapun yang ia inginkan. Berbeda dengan zaman dahulu dimana untuk menjadi seseorang yang bisa "didengar" maka ia harus memiliki posisi atau status sosial terlebih dahulu seperti pejabat, selebritis, tokoh masyarakat dsj. Atau jika tidak demikian, maka ia harus punya media untuk menunjukkan "eksistensi" dirinya kepada khalayak.
Dulu media hanya dikuasai oleh segelintir elite namun kini semua bisa punya media berupa akun media sosial. Semua bisa punya saluran TV pribadi berupa akun Chanel YouTube. Dulu ketika orang menulis pemikirannya atau pendapatnya, maka ia harus mengirimkannya terlebih dahulu ke media cetak (majalah dan koran), dan itupun harus menunggu beberapa waktu berdasarkan kebijakan redaksional media cetak tersebut, apakah layak dimuat atau tidak, serta ditambah harus bersaing dengan ratusan (atau lebih) tulisan orang lain yang juga dikirimkan ke media cetak tersebut. Namun kini setiap orang bisa menuliskan pemikiran atau pendapatnya di akun media sosial pribadinya dan bisa dibaca bahkan oleh seluruh warga Dunia. Setiap orang bahkan bisa menyiarkan kegiatan keseharian dirinya mengenai hal yang penting dan berguna bagi masyarakat seperti yang dilakukan oleh para ahli di bidangnya (kedokteran, ahli gizi, agamawan, ahli masak, ahli pendidikan, ahli politik dll) melalui acara siniar (podcast) atau live IG, TikTok, Facebook, Twitter, YouTube dll. Bahkan untuk hal-hal tidak berguna alias bernilai sampah seperti wanita menjual layanan seksual, joged erotis, ngemis online cari saweran, hingga debat kusir yang absurd pun kini bisa dilakukan oleh setiap orang lewat media sosial masing-masing. Inilah dinamika zaman. Terlepas dari halal dan haram, baik dan buruknya, yang jelas semua tentu akan ada konsekuensi yang mesti ditanggung baik di dunia apatah lagi di akhirat kelak.
Namun yang jelas, sebagai seorang Muslim, tentu ada batasan-batasan yang harus diperhatikan di dalam bermedia sosial. Karena seorang Muslim diajarkan bahwa tindakan apapun di dunia ini tentu ada bentuk pertanggungjawabannya. Sayyidina Ali bin Abi Thalib Kwh pernah ditanya,
وقال رجل لعلي بن أبي طالب - رضي الله عنه -: (يا أمير) المؤمنين، صف لنا الدنيا، فقال: وما أصف لك من دار من صح فيها ما أمن، ومن سقم فيها ندم، ومن افتقر فيها حزن، ومن استغنى فيها فتن، في حلالها الحساب، وفي حرامها العذاب
"Seseorang berkata kepada Ali bin Abi Thalib Radiyallahu Anhu : "Wahai Amirul Mukminin, gambarkanlah dunia ini kepada kami." Beliau menjawab: "Apa yang dapat kugambarkan kepadamu tentang suatu tempat di mana orang yang sehat di dalamnya tidak merasa aman, orang yang sakit di dalamnya merasa menyesal, orang yang miskin di dalamnya merasa sedih, dan orang yang kaya di dalamnya tergoda (terfitnah) ? Pada hal-hal yang halal di dalamnya terdapat hisab (perhitungan), dan pada hal-hal yang haram di dalamnya terdapat hukuman."
Sesuatu yang bernilai halal di dunia ini pun kelak akan dihisab (diperhitungkan) tentang sah dan layak diterima oleh Allah atau tidak, tentang bagaimana cara mendapatkan dan kemana hal-hal duniawi yang halal itu diperjalankan (digunakan). Dan apalagi dengan hal-hal duniawi yang haram, tentu siksaan (neraka) adalah harga mati yang harus didapatkan.
Jika acuan perkataan Sayyidina Ali bin Abi Thalib Kwh di atas dijadikan pegangan, tentu seorang Muslim akan bijak dalam bermedia sosial. Ada sebuah pesan dari Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam yang seyogyanya jadi pegangan para Muslimin terutama saat melakukan aktivitas media sosial. Beliau bersabda,
من دعا الى ضلالة كان عليه من الاثم مثل آثام من تبعه لا ينقص ذلك من آثامهم شئ
"Barangsiapa yang mengajak orang lain kepada kesesatan maka ia akan memikul beban dosa yang sama besarnya dengan dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sendiri sedikit pun." (HR. Muslim)
Hari ini di media sosial banyak kita dapati para pemengaruh (influencer) yang punya banyak pengikut. Apapun yang dilakukan oleh para pemengaruh seringkali ditiru dan dilakukan hingga dijadikan kebiasaan oleh para pengikutnya. Jika menilik hadis di atas, tentu ada keuntungan besar bagi para pemengaruh jika tindakan (amaliah) mereka itu bernilai baik karena bisa menjadi ladang pahala jariyah bagi mereka, namun sebaliknya jika yang mereka contohkan adalah hal buruk bahkan bernilai dosa tentu sungguh sangat malang nasib mereka kelak di akhirat sebab mereka telah menabung dosa-dosa jariyah.
Ada pernyataan bijak dari Imam Syatibi Rahimahullah yang juga ditulis di dalam kitab Ihya' Ulumuddin karya Imam Al Ghazali Rahimahullah yang berbunyi,
طُوبَى لِمَنْ مَاتَ وَمَاتَتْ مَعَهُ ذُنُوبُهُ، وَالْوَيْلُ الطَّوِيلُ لِمَنْ يَمُوتُ وَتَبْقَى ذُنُوبُهُ
"Sungguh beruntung bagi orang yang ketika dia mati, mati pula dosa-dosanya bersamanya. Dan sungguh celaka -celaka berkepanjangan- bagi orang yang mati sementara dosa-dosanya tetap ada"
Para ulama menjelaskan hal ini secara sederhana sebagai gambaran pahala dan dosa jariyah. Orang yang beruntung adalah mereka yang ketika mati maka dosanya ikut mati alias tidak ada dosa jariyah yang mengalir ke alam kuburnya hingga dia tidak mendapatkan siksa tambahan dari alam dunia yang dia tinggalkan. Dan kemalangan yang panjang bagi orang yang ketika dia mati namun dosanya masih hidup dan terus berjalan. Dosa itu tetap ada dan lanjut berjalan serta mengalirkan dosa jariyah kepada orang tadi yang sudah berada di alam barzakh. Mengapa demikian? Sebab dahulu semasa hidup di dunia si mayit melakukan perbuatan dosa dan celakanya perbuatan itu ditiru dan dilakukan oleh orang lain. Di zaman media digital ini tentu sangat relevan jika hal itu semakin nyata terjadi. Gambaran sederhananya adalah, manakala seseorang -entah dia influencer atau bukan- mengunggah suatu video, gambar atau tulisan dan semua itu dinikmati bahkan ditiru oleh orang lain (netizen) maka itu akan menjadi pahala atau dosa jariyah tergantung itu hal baik atau buruk. Dan pahala atau dosa itu akan tetap mengalir ke alam barzakh si pengunggah selama hasil unggahan itu masih ada, dinikmati, atau dilakukan oleh orang lain yang menirunya.
Ada istilah terkenal saat ini yang berbunyi, 'jejak digital itu kejam'.
Nampaknya memang demikian adanya jika kita mengkaji tulisan ini dari awal. Sebab jejak digital adalah juga jejak dosa atau jejak pahala jariyah yang kelak akan tetap abadi selama jejak digital itu masih ada.
Maka sangat wajar jika ada beberapa artis yang sudah bertobat (artis hijrah) yang dahulunya sering tampil seksi atau sering mengunggah foto dan video semi telanjang, meminta agar foto- foto dan videonya yang tidak pantas itu agar dihapus oleh para netizen. Si artis memang sudah bertobat dan menghapus semua unggahan "dosa" di akun media sosialnya namun sayangnya foto-foto dan video-video itu sudah kadung diunduh jutaan orang dan disebar serta dikonsumsi oleh jutaan mata. Inilah yang sangat ditakutkan menjadi potensi dosa jariyah yang tentu sangat merugikan bagi yang bersangkutan baik di dunia maupun di alam akhirat kelak.
Sebagai penutup, tulisan ini hanya renungan sederhana penulis ketika merenungi fenomena dunia maya hari ini yang semakin mengerikan. Namun mirisnya tidak begitu diperhatikan oleh para Muslimin bahkan terkesan diremehkan. Semoga bisa menjadi renungan bersama, karena apa yang kita lakukan hari ini (di dunia) sekecil apapun pasti ada balasannya kelak di akhirat. Dan mari menjadi orang yang cerdas di rimba kejahiliyahan dunia maya ini, siapa itu orang yang cerdas,
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ
"Orang yang cerdas (sukses) adalah orang yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri, serta beramal untuk kehidupan sesudah kematiannya. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT.” (HR Tirmidzi). Wallahu A'lam Bis Showab
